Eeegh!
Semua rasanya ingin di kerjakan sekaligus. Kadang satu belum rampung langsung cari buku lain di laci, rak sudut manapun.Buku belum ketemu sudah ambil tongkat pel, semua lantai di gesek-gesek diusahakan mengkilat..sedangkan lantainya keramiknya sudah burem.Keramik belum berhasil kinclong sudah lari ke pagar luar meladeni tukang sayur..entah mau beli apa juga enggak tahu.”Oh ya.. wortel..wortel untuk Lady kelinciku (tepatnya kelinci anakkku Kasih yang dititipkan bertahun-tahun..lucu deh..biar agak gemuk bulu awutan tapi menarik..kalau kencing jangan tanya betapa sengit baunya..bisa buat migren).
Siang hari mulai badan agak kaku..Tetapi kesibukkan harian terus dilakukan tanpa kenal lelah. Apalagi jelang pindah rumah ada saja yang terlihat terbuang dan tersimpan lagi.
Lagi? Iya beneran.. kenapa ya kita manusia senang dengan barang nostalgia. Sedangkan semua itu
membuat debu..sempit, suntuk!
Hari ini hanya kata-kata sedikit cuman itu latihan senam jari-jari tua ini. Jari yang terus bergerak menekan tuts keyboard komputer, jari untuk menyusun barang.. menggaruk kening..jari yang kadang kita perintah apa eh… dia kemana. (tau tuh kadang jari suka iseng ngambek tak mau kita suruh.. malah berkumpul 10 tak bergerak.. ha ha ha).
Banyak hal sudah enggak nyambung dalam hidup. Bukan karena nyaris tua.. tetapi kalau dipikir sedari dulu semua hal sudah tak mungkin nyambung. Manusia saja memaksa diri harus nyambung.
Bayangkan orangtua memaksa anak harus menurut karena mengharapkan anak-anak kelak menjadi penyambung keturunan yang keren bisa dibanggakan..’memaksa’ kan dengan kata satu darah.. otomatis wajib sekata..
Memang sudah begitu dan manusia pun melanjutkan terus turun temurun..”memaksa’ hati, rasa, tradisi, apa kata orang..
Sudah ya..sudah terlalu kisruh jari dan mata, telinga kita saat ini. Melelahkan!